Sebagai sebuah kota yang dibangun atas perintah Gubernur Jendral Hindia Belanda yang berkuasa pada tahun 1800-an, yaitu H.W.Daendels, kota Bandung ini masih menyisakan aroma Kolonial yang cukup terasa.

Masih ada beberapa bangunan berusia puluhan hingga ratusan tahun yang berdiri anggun menantang zaman, walau sayangnya banyak juga yang hanya tinggal kenangan saja karena kalah oleh perkembangan kota.

Nah, jika kalian termasuk salah satu yang suka melakukan wisata arsitektur tempo doeloe, berikut ini contekan itinerary untuk mengunjungi aneka bangunan bersejarah di Bandung dalam tempo satu hari saja.

Tentunya, semua tergantung pada kondisi traffic di hari-H, tergantung jam kalian memulai tur (makin pagi makin baik!), serta tergantung berapa lama waktu yang dihabiskan dalam sebuah tempat. Dan, jangan lupa siapkan kamera, karena aneka bangunan ini terlalu keren untuk diabaikan begitu saja.

*   *   *

1. Menjelajah Bandoeng Tempo Doeloe Nggak Akan Sip Kalau Nggak Mulai dari Bangunan Paling Ikonik di Bandung: Gedung Sate.

Area di sekitar Gedung Sate jadi titik terbaik untuk memulai penjelajahan Bandoeng Tempo Doeloe. Selain karena posisinya yang ada di tengah-tengah kota, di sekitar Gedung Sate ini terdapat beberapa bangunan jadul yang bisa kalian kunjungi sambil ngesot sekalipun sehingga menghemat waktu wisata.

A. Gedung Sate, B. Museum Geologi, C. Gedung Dwi Warna. Screenshot+edit by me.
A. Gedung Sate, B. Museum Geologi, C. Gedung Dwi Warna. Screenshot+edit by me.

Spot pertama yang wajib dikunjungi adalah Gedung Sate, sebuah gedung yang menjadi pusat pemerintahan Provinsi Jawa Barat dan sudah dibangun sejak tahun 1920. Dirancang oleh arsitek Ir.J.Gerber beserta tim-nya, gaya arsitektur Indo-Eropa dari Gedung Sate ini diakui sangat monumental dan anggun mempesona. Nggak heran jika bangunan ini dianggap sebagai bangunan bersejarah paling ikonik di Bandung.

Seperti inilah penampakan Gedung Sate dilihat dari depan.

Gedung Sate dilihat dari tampak depan, via cuti.my
Gedung Sate dilihat dari tampak depan, via cuti.my

Anggun, kan? Tak hanya bagian depannya saja yang terlihat mempesona. Bagian belakangnya pun nggak kalah keren untuk di jepret oleh kamera. Jika kalian berhasil masuk hingga ke bagian dalam kompleks, jangan lupa sempatkan juga untuk memotret aneka detail unik dari Gedung Sate ini. Lebih seru lagi jika bisa masuk ke dalam bangunan Gedung Sate, karena interior di dalamnya juga nggak kalah menawannya.

Gedung Sate dilihat dari belakang, via resordagopakar
Gedung Sate dilihat dari belakang, via resordagopakar
Koridor Gedung Sate, via airfotonetwork.wordpress
Koridor Gedung Sate, via airfotonetwork.wordpress

Setelah puas mengelilingi Gedung Sate, kembalilah ke bagian depan. Nggak jauh dari Gedung Sate, ada Museum Geologi Bandung yang sudah dibangun sejak tahun 1928. Gedung yang memiliki gaya arsitektur art deco ini kerap dijadikan satu paket fotografi oleh mereka yang tengah hunting foto Gedung Sate.

Museum Geologi Bandung, via ciputranews
Museum Geologi Bandung, via ciputranews

Dan, untuk menutup acara wisata tempo doeloe di kawasan ini, mampir ke Gedung Dwi Warna yang ada di sebelah Museum Geologi, ya. Gedung ini menjadi salah satu saksi sejarah Konferensi Asia Afrika tahun 1955 karena pernah digunakan sebagai tempat rapatnya komisi KAA, yang sayangnya fakta ini jarang disebut setiap kali gelaran KAA diadakan di Bandung.

Gedung Dwi Warna, via nyeduhteh.blogspot
Gedung Dwi Warna, via nyeduhteh.blogspot

Ngomong-ngomong, memotret Gedung Dwi Warna ini menjadi sebuah tantangan tersendiri karena bagian depan gedung ini dipenuhi dengan pepohonan. Jika waktu wisata terbatas, nggak masalah jika ingin melewatkan gedung ini dan lanjut ke rute nomor 2.

Google Maps: < link >

*   *   *

2. Bergerak Sedikit ke Arah Barat Daya, Ada Jalan Sultan Agung yang Nggak Hanya Asyik untuk Nongkrong, Tapi Sekaligus Asyik untuk Wisata Cagar Budaya.

A. Sekolah St.Aloysius, B. Gedung Tiga Warna. Screenshot+edit by me.
A. Sekolah St.Aloysius, B. Gedung Tiga Warna. Screenshot+edit by me.

Jalan Sultan Agung termasuk salah satu tempat nongkrong favorit bagi wisatawan yang hobi jalan dan jajan. Di jalan ini terdapat beberapa distro dan tempat nongkrong yang hits, serta terdapat salah satu sekolah tertua di Bandung, yaitu St.Aloysius, yang sudah dibangun sejak tahun 1928-1930. Sayangnya bangunan sekolah ini tertutup rimbunnya pohon dan sulit untuk diabadikan oleh kamera, jadi teruskan saja perjalanan kalian hingga ke ujung Jalan Sultan Agung.

Tepat di ujung jalan Sultan Agung, terdapat sebuah bangunan yang dulunya bernama Gedung Tiga Warna alias De Drie Kleur. Dibangun pada akhir dekade 1930-an, gedung ini sempat dijadikan sebagai Kantor Berita Domei pada masa penjajahan Jepang dan menjadi tempat pertama pembacaan teks proklamasi di Bandung. Kabarnya gedung ini juga sempat dijadikan kantor polisi, diskotik, hingga akhirnya kini dijadikan sebagai bangunan bank.

Gedung Tiga Warna, via serbabandung
Gedung Tiga Warna, via serbabandung

Google maps: < link >

*   *   *

3. Teruslah ke Arah Selatan dan Berhenti Dulu di Taman Vanda. Bukan Untuk Ngeceng, Tapi Untuk Hunting Bangunan Jadul di Sekitarnya.

Taman Vanda (lingkaran merah), A. Polrestabes, B. Gereja St.Petrus, C. Gereja Bethel Indonesia, D. Bank Indonesia. Screenshot+edit by me.
Taman Vanda (lingkaran merah), A. Polrestabes, B. Gereja St.Petrus, C. Gereja Bethel Indonesia, D. Bank Indonesia. Screenshot+edit by me.

Dari Gedung Tiga Warna, teruskan saja perjalanan ke arah Selatan dan kalian akan bertemu dengan Jalan Merdeka. Sebetulnya di Jalan Merdeka ini ada beberapa bangunan jadul yang punya sejarah cukup panjang seperti Gedung Panti Karya, sekolah St.Angela, dan lain-lain. Tapi, untuk memaksimalkan waktu wisata, mari menjelajah bangunan yang ada di sekitar Taman Vanda saja dulu.

Taman Vanda, via ridwanspektra.wordpress
Taman Vanda, via ridwanspektra.wordpress

Taman Vanda (lihat notasi lingkaran pada foto peta) sebetulnya nggak besar-besar amat. Tapi taman ini enak dijadikan sebagai tempat kongkow karena posisinya yang berada di tengah-tengah persimpangan Jalan Merdeka – Jalan – Jalan Jawa.

Sedangkan bagi pecinta wisata tempo doeloe, Taman Vanda ini seksi karena dia ada di tengah-tengah sekumpulan bangunan bergaya arsitektur kolonial. Yang paling dekat dengan Taman Vanda adalah Gedung Polrestabes Bandung (lihat notasi A pada foto peta).

Gedung Polrestabes Bandung, via sepanjangjk.wordpress
Gedung Polrestabes Bandung, via sepanjangjk.wordpress

Gedung Polrestabes Bandung ini pertama dibangun pada tahun 1895 dengan fungsi utamanya adalah sebagai Sekolah Raja. Sampai saat ini kondisinya masih terjaga dengan baik lho, termasuk berhasil mempertahankan gaya arsitektur aslinya. Hanya saja, mengingat bangunan ini masih aktif digunakan sebagai kantor polisi, mungkin kalian perlu minta ijin lebih dulu kalau ingin foto-foto dari jarak dekat.

Di sebelah Gedung Polrestabes Bandung, tepatnya di seberang jalan (lihat notasi B pada foto peta), ada Gereja St.Petrus. Bangunan gereja ini dibangun pada tahun 1922 oleh arsitek C.P.Wolff Schoemaker dan sampai saat ini kondisinya juga masih terawat sangat baik. Jika kalian termasuk pengagum hal-hal bernuansa Gohic, maka gereja yang memiliki langgam arsitektur neo-Gothic akhir ini pasti dapat memuaskan lensa kamera kalian.

Gereja St.Petrus Bandung, via pic2fly
Gereja St.Petrus Bandung, via pic2fly

Kembalilah lagi ke Taman Vanda dan berjalanlah ke arah Barat. Di titik C pada foto peta, kalian akan menemukan Gereja Bethel Indonesia. Bangunan buah karya dari arsitek ternama Prof. Wolff Schoemaker (sama dengan yang membangun Gereja St.Petrus) ini sudah dibangun sejak tahun 1924, dan saat ini sudah diakui sebagai salah satu cagar budaya di Bandung. Memang cantik sih bangunannya!

Gereja Bethel Indonesia, via GilangFirmansyah/flickr
Gereja Bethel Indonesia, via GilangFirmansyah/flickr

Dan, untuk menutup acara jalan-jalan di spot ini, bergeraklah ke gedung lama Bank Indonesia yang ada di Jalan Braga (notasi D pada foto peta). Dari tampak luarnya saja kalian dapat melihat jika bangunan ini dirancang dengan gaya arsitektur Roman-Yunani yang anggun. Kolom-kolom di depan bangunan serta bentuk atapnya akan mengingatkan kita pada kuil-kuil di Yunani. Indah dan terasa agung.

Gedung Bank Indonesia, via dakwatuna
Gedung Bank Indonesia, via dakwatuna

Sebetulnya, dari gedung Bank Indonesia ini kalian bisa langsung menjelajah ke Jalan Braga yang memiliki banyak bangunan bergaya arsitektur kolonial. Kecuali jika waktu wisata super terbatas, kita simpan dulu Jalan Braga untuk nanti. Sekarang saatnya menuju ke SMA 3 dan 5 yang ada di jalan Belitung.

Google maps: link >

*   *   *

4. Gedung SMA 3 dan SMA 5 Termasuk Salah Satu yang Wajib Dikunjungi Bagi Pecinta Arsitektur Jadul. Jadi, Kenapa Nggak Ke Sana?

Salah satu bangunan jadul yang wajib dikunjungi di Bandung adalah bangunan SMA 3 dan SMA 5 Bandung. Jadi, walau lokasinya agak menyimpang dari rute yang seharusnya, jangan lewatkan kesempatan untuk mampir ke dua SMA top di Bandung ini untuk sekedar foto-foto.

Penampakan kedua bangunan SMA yang berbagi gedung ini bisa dilihat dibawah ini.

 

Gedung SMA 5 Bandung, via pracekawalkerboy/panoramio
Gedung SMA 5 Bandung, via pracekawalkerboy/panoramio
Penampakan lebih dekat, via thesamperuru/flickr
Penampakan lebih dekat, via thesamperuru/flickr

Bangunan SMA 3 dan SMA 5 ini sudah dibangun sejak tahun 1916. Nama arsiteknya mungkin sudah tak asing lagi bagi kalian, yaitu C.P. Wolff Schoemaker; sama seperti yang membangun Gereja St.Petrus dan Gereja Bethel.

Bentuk bangunan kedua SMA ini memang sangat mencirikan arsitektur tempo doeloe. Tapi sebetulnya bukan itu saja yang membuat bangunan SMA ini populer. Percayalah, banyak yang datang karena penasaran dengan legenda hantu Nancy di sekolah ini lho!

Untuk menuju SMA ini dari Taman Vanda, lihat rutenya dibawah ini:

Google maps: < link >

*   *   *

5. Saatnya Mengunjungi Titik Nol Kota Bandung, Tempat Daendels Memerintahkan Pembangunan Kota Kembang Ini.

Brace yourself karena disini kalian akan panen banyak bangunan jadul paling populer di Bandung! Saking banyaknya, bisa-bisa perlu waktu seharian untuk menjelajah bangunan di jalan Asia Afrika saja. Jadi, demi memenuhi misi awal “itinerary satu hari menjelajah bangunan bersejarah populer di Bandung”, mari fokus pada bangunan-bangunan yang level popularitasnya paling tinggi saja.

Sebagai awal, silahkan lihat dulu peta di bawah ini.

A. Grand Hotel Preanger, B. Titik nol KM, C. Hotel Savoy Homan, D. Kimia Farma, E. OCBC NISP, F. Museum KAA, G. Gedung Merdeka. Screenshot+edit by me.
A. Grand Hotel Preanger, B. Titik nol KM, C. Hotel Savoy Homan, D. Kimia Farma, E. OCBC NISP, F. Museum KAA, G. Gedung Merdeka. Screenshot+edit by me.

Banyak kan? Dan percayalah, masih ada beberapa bangunan yang belum dicantumkan dalam notasi di atas lho. Next time mudah-mudahan ada kesempatan untuk membuat panduan khusus menjelajah aneka cagar budaya khusus di Jalan Asia Afrika saja.

Oke, bangunan pertama yang menarik untuk dijelajahi di jalan ini adalah Grand Hotel Preanger. Bangunan hotel ini letaknya tepat di sudut jalan sehingga mudah dikenali. Bangunan bergaya art deco ini sudah dibangun sejak tahun 1925 oleh arsitek C.P. Wolff Schoemaker (familiar dengan nama ini?). Namun kabarnya Ir.Soekarno, presiden RI pertama, juga turut andil dalam proyek pembangunan hotel ini lho.

Hotel Preanger, via skyscrapercity
Hotel Preanger, via skyscrapercity

Di sebelah Hotel Preanger, ada tugu Titik Nol Kilometer. Dulu disinilah Daendels berdiri, menancapkan tongkatnya dan bersabda memerintahkan pembangunan kota Bandung. Sayangnya, untuk sebuah tempat yang bersejarah, tugu ini sejatinya nggak lebih dari tugu kecil (mirip patok jalan) bertuliskan angka nol. Mungkin salah satu bagian yang cukup menghibur, yaitu adanya kepala lokomotif kuno di belakang tugu ini.

Titik nol kilometer Bandung, via alimuakhir
Titik nol kilometer Bandung, via alimuakhir

Tak begitu jauh dari titik nol, ada Hotel Savoy Homann yang konon sudah dibangun sejak tahun 1870-an. Namun bangunan hotel Savoy Homann yang bisa kita lihat sekarang ini baru dibangun pada tahun 1939 oleh arsitek AF Aalbers dan R de Waal dengan gaya arsitektur art-deco yang sangat dinamis. Coba saja perhatikan bentuk-bentuk melengkung yang ada di bagian depan hotel. Masih terlihat keren hingga abad berganti, bukan?

Savoy Homann, via Lambang Kumara/flickr
Savoy Homann, via Lambang Kumara/flickr

Penampakan lain hotel Savoy Homann:

Savoy Homann, via Wanto Sarvirawan/panoramio
Savoy Homann, via Wanto Sarvirawan/panoramio

Di seberang hotel Savoy Homann, tepat di pertigaan antara jalan Braga dan Jalan Asia Afrika, ada bangunan Kimia Farma. Bangunan ini sudah dibangun sejak tahun 1902 dan kini masuk dalam daftar cagar budaya Bandung.

Kimia Farma Asia Afrika, via nyeduhteh.blogspot
Kimia Farma Asia Afrika, via nyeduhteh.blogspot

Berikutnya, ada gedung Werenhuis de Vries yang kini ditempati oleh Bank OCBC NISP. Werenhuis de Vries alias Supermarket de Vries ini sudah dibangun sejak tahun 1920 oleh arsitek Edward Cuypers dan memiliki gaya arsitektur Indis. Setelah sukses di restorasi beberapa tahun silam, bangunan de Vries ini tampil semakin cantik lho, khususnya pada bagian menaranya yang bikin gedung ini tampil beda dengan bangunan lain di jalan Asia Afrika ini.

 

Werenhuis de Vries / OCBC NISP, via aziatischetijger
Werenhuis de Vries / OCBC NISP, via aziatischetijger
Menaranya keren banget!, via Perry Tak
Menaranya keren banget!, via Perry Tak

Nah, kedua gedung berikut ini selalu jadi bintang utama dalam setiap gelaran Konferensi Asia Afrika. Gedung pertama adalah Museum Konferensi Asia Afrika (atau Museum KAA), dan gedung kedua adalah Gedung Merdeka. Sebetulnya kedua gedung ini masih merupakan satu kesatuan bangunan. Hanya saja, bagian yang jadi ruang sidang pada Konferensi Asia Afrika lebih tenar dengan nama Gedung Merdeka, sementara bagian lainnya populer sebagai museum.

Museum KAA, via wisatabdg
Museum KAA, via wisatabdg
Gedung Merdeka Bandung, via kamalphotography.deviantart
Gedung Merdeka Bandung, via kamalphotography.deviantart

Dari Gedung Merdeka, saatnya menjelajah jalan paling tersohor dalam sejarah wisata heritage Bandung, yaitu jalan Braga. Sebetulnya kalian bisa langsung menyingkat waktu dengan melintasi jalan Cikapundung. Tapi nggak ada salahnya kita sedikit berjalan melingkar untuk melihat beberapa bangunan jadul nan keren lainnya di sekitaran Alun-alun Bandung.

Google maps: link >

*   *   *

6. Berjarak Selemparan Batu, Braga Jadi Tempat Hunting Foto Asyik Selanjutnya. Tapi Sebelumnya Mampir Dulu ke Alun-alun Bandung ya.

A. Bank Mandiri, B. Swarha, C. Kantor Pos Pusat, D. Bekas sel Ir.Soekarno. Screenshot+edit by me.
A. Bank Mandiri, B. Swarha, C. Kantor Pos Pusat, D. Bekas sel Ir.Soekarno. Screenshot+edit by me.

Ada beberapa bangunan kuno yang menarik untuk di foto di sepanjang perjalanan menuju ke sekitaran Alun-Alun Bandung. Namun mari fokus pada bangunan-bangunan yang populer dulu.

Gedung pertama yang wajib disambangi di sekitaran Alun-alun ini adalah gedung Bank Mandiri. Semula, gedung ini bernama gedung Nies Compotomy dan sudah dibangun sejak tahun 1915 oleh arsitek R.L.A. Schoemaker. Hingga saat ini, gedung Bank Mandiri ini sukses mempertahankan fasade bangunannya yang kental dengan gaya arsitektur neo klasik (Art Deco ornamental), sehingga sangat kental sekali nuansa tempo doeloe-nya.

Bank Mandiri, via sepanjangjk.wordpress
Bank Mandiri, via sepanjangjk.wordpress

Di seberang pojok Bank Mandiri ada gedung Swarha. Gedung ini sebetulnya masih belum jelas sejarahnya maupun nama arsiteknya. Hanya saja, bangunan ini diketahui pernah menjadi tempat menginap para tamu dan wartawan dalam Konferensi Asia Afrika. Sayang sekali kondisi bangunan ini bisa dikatakan nyaris tak terurus.

Gedung Swarha, via yoedhazone.deviantart
Gedung Swarha, via yoedhazone.deviantart

Bangunan lain yang layak untuk diperhatikan pada spot ini adalah gedung Kantor Pos Besar Bandung. Gedung ini dirancang oleh arsitek ternama J.Van Gent dan konon proses pembangunannya memakan waktu 3 tahun, yaitu antara tahun 1928-1931. Sekedar informasi, bangunan ini punya tampak samping yang nggak kalah keren untuk diabadikan oleh kamera lho.

Kantor Pos Besar Bandung, via J.Haryadi/kompasiana
Kantor Pos Besar Bandung, via J.Haryadi/kompasiana

Dan, untuk menutup acara jalan-jalan di spot ini, mari melipir ke bekas kompleks Penjara Banceuy. Tenang, kita bukannya akan mengunjungi para napi karena kompleks penjara itu sudah tak ada. Yang tersisa dari penjara Banceuy hanya sebuah bilik yang dulu pernah digunakan oleh Ir.Soekarno saat ditahan selama 2 tahun, dan sebuah menara penjaga.

Sel Soekarno di bekas kompleks Penjara Banceuy, via citizen.liputan 6
Sel Soekarno di bekas kompleks Penjara Banceuy, via citizen.liputan 6

Bekas sel tersebut memang kecil dan terhimpit oleh bangunan modern yang ada di sekitarnya. Jadi jika kalian terlewat dan nggak keburu untuk mengunjungi tempat ini, langsung saja menuju spot berikutnya ya.

Google maps: link >

*   *   *

7. Saatnya Mengeksplorasi Braga!

A. Bank BJB Banten, B. Centre Point, C. Landmark, garis merah: Jalan Braga. Screenshot+edit by me.
A. Bank BJB Banten, B. Centre Point, C. Landmark, garis merah: Jalan Braga. Screenshot+edit by me.

Dari seluruh jalan yang ada di Bandung, Jalan Braga menjadi jalan terpopuler sebagai destinasi tujuan wisata tempo doeloe di Bandung. Jalan Braga ini sebetulnya cukup panjang, dimulai dari Gedung Merdeka dan berakhir di persimpangan antara jalan Braga – Jalan Wastukencana. Gampangnya sih, Jalan Braga sebetulnya dimulai dari Gedung Merdeka dan berakhir di Gedung Bank Indonesia (lihat nomor 3).

Dari jalan sepanjang itu, ruas yang paling populer dikunjungi oleh pecinta romantisme masa lalu adalah ruas jalan yang ditandai dengan garis merah pada foto peta di atas. Di sepanjang ruas jalan tersebut kalian dapat menemukan berbagai bangunan jadul dalam berbagai kondisi, mulai dari “wow” hingga “wew”. Kira-kira seperti inilah penampakan jalan Braga dalam lensa kamera:

Jalan Braga, via buasbgt/panoramio
Jalan Braga, via buasbgt/panoramio
Jalan Braga, via babirun
Jalan Braga, via babirun
Jalan Braga, via whydontweliveinblackandwhite.blogspot
Jalan Braga, via whydontweliveinblackandwhite.blogspot

Dari banyak bangunan yang ada di Jalan Braga, berikut ini beberapa yang paling sering diabadikan oleh para wisatawan. Yang pertama adalah bangunan Bank BJB Banten yang berada tepat di persimpangan Jalan Braga – Jalan Naripan. Saat melihat bangunan ini, mungkin kalian akan langsung teringat pada bangunan Hotel Savoy Homann yang ada di Jalan Braga karena adanya kemiripan bangunan. Wajar saja, karena arsitek kedua bangunan tersebut memang sama, yaitu Albert Frederik Aalbers.

Bank BJB di Jalan Braga, via CrashingAlien/photobucket
Bank BJB di Jalan Braga, via CrashingAlien/photobucket

Jika kalian sempat berhenti untuk foto-foto di bangunan ini, jangan lupa berpose di tugu BRAGA yang ada di depan gedung Bank BJB ini ya. Spot ini termasuk salah satu spot hits untuk selfie dan foto-foto di kawasan Braga.

Tugu BRAGA, via sebandung
Tugu BRAGA, via sebandung

Bangunan lain yang populer di jalan ini adalah Centre Point yang terletak di persimpangan antara Jalan Braga – Jalan Lembong – Jalan Suniaraja. Gedung ini dirancang oleh seorang arsitek ternama (yang mungkin sudah cukup familiar di telinga kalian), yaitu C.P.Wolff Schoemaker, yang juga merancang Hotel Preanger, Gereja Bethel, Gereja St.Petrus, dan banyak bangunan keren lainnya di Bandung.

Centre Point, via antontimur/panoramio
Centre Point, via antontimur/panoramio

Last but not least, jangan lupa mampir ke Landmark building (lihat notasi C dalam foto peta). Bangunan yang dulunya bernama toko van Dorp ini dibangun pada tahun 1922 dengan gaya art deco, dan dirancang oleh arsitek – ayo tebak! – C.P.Wolff Schoemaker. Setelah sempat kosong selama bertahun-tahun dan sempat berubah fungsi jadi gedung bioskop dan tempat hiburan, saat ini Landmark dikenal sebagai gedung konvensi populer di Bandung.

Landmark Bandung, via serbabandung
Landmark Bandung, via serbabandung

Google maps: link >

*   *   *

8. Akhiri Petualangan Hari ini dengan Mampir ke Gedung Pakuan dan Stasiun Bandung.

A. Gedung Pakuan, B. Stasiun Kereta Api lama. Screenshot+edit by me.
A. Gedung Pakuan, B. Stasiun Kereta Api lama. Screenshot+edit by me.

Untuk menutup acara wisata tempo doeloe dalam waktu sehari ini, saatnya mengunjungi Gedung Pakuan. Bangunan yang dibangun pada tahun 1864-1867 dan memiliki langgam arsitektur Indische Empire Stijl yang anggun dan monumental ini sudah sejak jaman dahulu digunakan sebagai kediaman Residen Priangan. Kini Gedung Pakuan resmi digunakan sebagai rumah dinas Gubernur Jawa Barat.

Penampakan gedungnya seperti ini:

Gedung Pakuan, via trifanews
Gedung Pakuan, via trifanews

Sebagai rumah dinas Residen Priangan dan Gubernur Jawa Barat, Gedung Pakuan ini menjadi saksi sejarah sejumlah peristiwa penting, seperti menerima tamu penting dalam Konferensi Asia Afrika, hingga menerima tamu penting internasional lainnya.

Sayangnya tamu biasa nggak bisa seenaknya masuk dan memotret gedung ini. Jadi, pertimbangkan untuk mengajukan surat ijin terlebih dulu sebelum datang ke gedung ini, atau mungkin kalian dapat mempertimbangkan cara lain seperti, yah, menjalin pertemanan dengan keluarga Gubernur Jawa Barat.

Jika waktu masih memungkinkan, sekalian kunjungi Stasiun Kereta Api Bandung. Tapi bukan stasiun baru yang terdapat di jalan Kebon Kawung, melainkan stasiun kereta api lama (lihat peta di atas). Stasiun ini sudah diresmikan sejak tanggal 17 Mei 1884 dan sempat di renovasi pada tahun 1909 oleh seorang arsitek bernama FJA Cousin. Saat ini bangunan stasiun ini sudah diakui sebagai bangunan cagar budaya.

Stasiun Kereta Api lama, via bandungview
Stasiun Kereta Api lama, via bandungview

*   *   *

Yang Tak Disebut Namun tak Terlupakan

Sebetulnya, Bandung masih memiliki banyak bangunan jadul yang menyisakan kemegahan aroma kolonial. Misalnya saja gedung Institut Teknologi BandungVilla Isolaobservatorium Bosscha, banyak lagi! Mungkin lain kali akan ada sample itinerary lainnya untuk mengunjungi aneka bangunan jadul lainnya yang belum disebutkan disini.

*   *   *

* Sebagian foto telah mengalami proses resize tanpa editan tambahan apapun.

 

baca juga :

Jangan Tertipu dengan Penampilannya! 6 Hotel di Dago Ini TERNYATA Nggak Semahal Kelihatannya Kok!

Setelah Asap Tak Lagi Menghalangi, Bersiaplah Jatuh Cinta Pada Pesona Keindahan Jambi!

Comments

comments