Saat mempersiapkan untuk liburan ke luar negeri, kebanyakan wisatawan akan fokus untuk mempersiapkan berbagai kelengkapan seperti passport, visa, daftar tempat wisata untuk dikunjungi, hingga daftar siapa saja yang harus mendapat oleh-oleh.

Sayangnya, nggak sedikit di antara wisatawan yang lupa membekali diri dengan aneka safety tips (atau tips keselamatan). Padahal, setiap negara – terutama negara maju — biasanya memiliki prosedur keselamatan tersendiri, khususnya untuk menghadapi hal-hal diluar dugaan seperti bencana alam.

Begitu juga dengan negara Jepang. Negara berjuluk Matahari Terbit ini memiliki beberapa tips keselamatan yang sebetulnya penting banget untuk diketahui oleh wisatawan. Apalagi, dibalik segala pesonanya, Jepang pun tak luput dari berbagai bencana alam.

Mengingat Jepang termasuk salah satu negara yang memiliki bahasa khas, dikhawatirkan wisatawan asing yang tidak familiar dengan bahasa Jepang akan mengalami kesulitan seandainya terjadi hal-hal darurat saat tengah berwisata ke sana.

Jika kalian memiliki rencana untuk berwisata ke Jepang, coba simak beberapa tips keselamatan berikut ini. Secara garis besar saya akan membagi aneka tips ini dalam 2 bagian utama: tips saat menghadapi bencana alam, dan tips untuk menghadapi/mencegah terjadinya kejahatan.

*             *             *             *             *

Tips Keselamatan Untuk Bencana Alam

Pemadaman reaktor nuklir Fukushima paska terjadinya tsunami tahun 2011, via sites.suffolk.edu
Pemadaman reaktor nuklir Fukushima paska terjadinya tsunami tahun 2011, via sites.suffolk.edu

Pada tanggal 22 November 2016 Jepang diguncang gempa yang cukup kuat (6,9 Skala Richter). Efek guncangannya terasa hingga ke beberapa kota, dan beberapa daerah dilanda tsunami kecil setinggi 60 cm hingga 1,40 meter.

Tsunami tersebut bahkan turut mengguncang Onahama Port, yang dikhawatirkan akan kembali mengganggu reaktor nuklir di Fukushima (untungnya tidak sampai separah itu).

Ini bukan kali pertama Jepang diguncang bencana alam. Pada bulan April 2016, prefektur Kumamoto diguncang dua gempa besar. Tahun 2011 yang lalu Jepang juga mengalami serangkaian bencana, termasuk tsunami, yang meluluhlantakkan sebagian wilayah di Jepang – termasuk merusak reaktor nuklir di Fukushima dan menyebabkan terjadinya bencana radiasi.

Bahkan sebetulnya, kalau ditelaah secara teliti, negara Jepang bisa dikatakan sangat rentan akan bencana alam. Gempa bumi, taifun (alias typhoons), letusan gunung berapi, tsunami, dan lain-lain; hanyalah sebagian bencana yang cukup rutin menyapa Jepang.

Walau begitu, jangan dulu takut dan akhirnya membatalkan acara wisata ke Jepang ya. Sekalipun Jepang cukup sering dilanda, namun negara tersebut memiliki sistem peringatan dini dan prosedur standar evakuasi yang sangat baik.

Hanya saja, mengingat bencana selalu datang tanpa diundang, nggak ada salahnya calon wisatawan yang berencana mengunjungi Jepang mengetahui beberapa tips untuk menghadapi bermacam bencana alam. Tujuan utamanya tentu saja agar wisatawan tidak bingung sendiri seandainya terjadi bencana, dan tahu prosedur keselamatan standar yang harus dilakukan. Simak detailnya berikut ini:

+             +             +

Informasi Dasar

Sebuah kapal tersangkut di atap rumah paska tsunami 2011, via rd.nl
Sebuah kapal tersangkut di atap rumah paska tsunami 2011, via rd.nl

–   Jepang memiliki sistem peringatan dini yang cukup baik. Penduduk setempat pun rutin berlatih untuk menghadapi situasi darurat. Bahkan setiap rumah memiliki kantong darurat (berisi makanan, minuman, dan beberapa perlengkapan lainnya) yang siap dibawa setiap kali terjadi ada peringatan bencana. Jadi, saat bingung harus melakukan apa, kalian dapat mengamati respon dari penduduk lokal saat terjadi bencana.

–  Saat berada di Jepang, jangan malas memantau prakiraan cuaca setiap harinya. Prakiraan cuaca di Jepang relatif akurat dan bisa diandalkan karena berdasarkan pantauan harian. Ingin lebih praktis? Kunjungi website Japan Meteorological Agency (JMA) (klik link) untuk melihat prakiraan cuaca terkini.

–  Sedangkan untuk pantauan peringatan kondisi cuaca harian, dapat mengunjungi website Japan Meteorological Agency (JMA)/Warnings berikut (klik link).

–  Untuk wisatawan, kalian dapat mengunduh aplikasi sistem peringatan dini “Safety Tips” yang akan mengirimkan peringatan otomatis saat terjadi bencana (terutama untuk gempa bumi dan tsunami). Penjelasan tentang aplikasi tersebut dapat dibaca DISINI, dan kalian dapat mengunduh aplikasinya disini: ANDROIDatau IPHONE.

–  Untuk memudahkan komunikasi saat terjadi kondisi darurat, khususnya jika kalian tidak bisa berbahasa Jepang, kalian bisa mencetak beberapa kartu komunikasi berikut ini dalam ukuran yang praktis untuk dibawa-bawa (sumber)

  1.  Saat terjadi bencanascreenshot_3
  2.  Memastikan keselamatan/keamanan lokasi saat iniscreenshot_4
  3.  Paska evakuasi (1) screenshot_5
  4.  Paska evakuasi (2) screenshot_6
  5.  Perawatan medis   screenshot_7
  6. Informasi dalam bahasa asing screenshot_8
  7. Masalah transportasi screenshot_9

–  Jika terjadi bencana alam dalam skala besar dan tidak memungkinkan bagi kalian untuk kembali ke hotel/penginapan, segeralah mencari shelter perlindungan terdekat. Biasanya shelter darurat akan diadakan di beberapa fasilitas publik (seperti taman dan bangunan sekolah). Di shelter darurat tersebut kalian akan mendapatkan makanan, minuman, dan dapat menggunakan toilet.

–  Saat bencana, ada kalanya jaringan telepon tidak berfungsi sehingga kalian akan sulit untuk dihubungi atau menghubungi keluarga. Namun, dalam beberapa kasus, jaringan internet justru lebih bisa diandalkan untuk mencari informasi, maupun untuk memberi kabar pada keluarga di rumah.

–  Seandainya terjadi situasi yang betul-betul darurat, catat beberapa alamat kedutaan dan konsulat Indonesia yang ada di Jepang:

  • Kedutaan Besar Republik Indonesia di Jepang
    Chancery: 5-2-9, Higashi-Gotanda, Shinagawa-ku, Tokyo 141-0022. Telp: 03-3411-4201
  • Konsulat Jendral Republik Indonesia di Osaka
    Nakanoshima Intes Building 22F, 6-2-40 Nakanoshima, Kita-ku, Osaka 530-0005. Telp: 06-6449-9898
  • Honorary Consulate of the Republic Indonesia in Sapporo
    c/o Hokkaido Gas K.K., 7-3-1, Odori-nishi, Chuo-ku, Sapporo-shi 060-8530. Telp: 011-207-2100
  • Honorary Consulate of the Republic of Indonesia in Fukuoka
    c/o Kyudenko Corp., 23-25, Nanokawa 1-chome, Minami-ku, Fukuoka-shi 815-0081. Telp: 092-523-1691.

+             +             +

Gempa Bumi

Sebuah daerah perumahan di Kumamoto paska terjadi gempa April 2016, via marketwatch
Sebuah daerah perumahan di Kumamoto paska terjadi gempa April 2016, via marketwatch

–  Dari berbagai jenis bencana yang kerap menyapa Jepang, gempa bumi berada di urutan pertama. Daerah Tohoku dan Kanto (di sekitar Tokyo) termasuk daerah-daerah yang cukup sering mengalami gempa dibanding daerah lainnya di Jepang.

–  Ini sebetulnya tips standar yang berlaku di negara mana pun. Setiap kali menginap di hotel/akomodasi lain, jangan lupa untuk mencari tahu jalur evakuasi darurat.

–  Jika kalian mengalami gempa bumi saat berada di dalam hotel, atau saat berada di luar ruangan, JANGAN langsung buru-buru lari untuk menyelamatkan diri. Kenapa? Soalnya dikhawatirkan kalian akan terluka oleh pecahan kaca/serpihan lain saat panik. Lebih baik segera berlindung dibawah meja atau obyek lain yang kira-kira cukup kuat untuk melindungi kepala.

–   Sebagai tambahan informasi, mayoritas bangunan (khususnya bangunan baru) di Jepang dirancang dengan konstruksi anti gempa. Kadang lebih aman berada di dalam bangunan (saat terjadi gempa) dibanding langsung lari berhamburan keluar. Namun jika kalian tak yakin, sebaiknya tanyakan pada orang di sekitar kalian (jika ada) apakah harus keluar bangunan atau cukup aman untuk berdiam di dalam saja.

–  Sedangkan jika kalian berada di tepi pantai, atau di dekat laut, segera menjauh dari laut karena dikhawatirkan akan terjadi tsunami.

–  Setelah keadaan mulai reda, segera perhatikan sekeliling kalian. Adakah api yang muncul setelah gempa, atau adakah potensi akan terjadi kebakaran? Jika ya, segera evakuasi diri ke ruang terbuka. Mayoritas korban jiwa akibat bencana gempa (di Jepang) terjadi bukan karena tertimpa reruntuhan bangunan, namun karena terjebak kebakaran (yang terjadi karena gempa) dan tidak bisa menyelamatkan diri.

+             +             +

Tsunami

Tsunami di Miyako (2011), via gazabpost
Tsunami di Miyako (2011), via gazabpost

–  Daerah yang paling rawan terkena tsunami tentu saja daerah yang berada dekat dengan laut. Jika kalian berwisata ke daerah dekat laut, terlebih jika daerah itu memiliki sejarah terkena tsunami, ada baiknya kalian langsung lari menjauh dari tepi laut saat terasa gempa bumi (terutama jika gempa tersebut berlangsung lebih dari 20 detik). Usahakan lari ke tempat yang lebih tinggi.

–  Seandainya saat tsunami terjadi kalian berada di daerah yang terdampak langsung dengan tsunami (khususnya jika daerah tersebut jauh dari kota besar), kalian mungkin akan sulit untuk bepergian karena terganggunya infrastruktur. Sebaiknya segera tanyakan lokasi shelter darurat, karena disana kalian bisa mendapatkan berbagai informasi tambahan yang dibutuhkan.

+             +             +

Taifun

Berjalan menembus taifun, via theindependentbd
Berjalan menembus taifun, via theindependentbd

–  Taifun biasanya kerap terjadi antara bulan Juni hingga Desember, dan intensitas taifun terbanyak pada bulan Juni-September. Adapun daerah di Jepang yang memiliki resiko tinggi terkena taifun antara lain Okinawa, Kyushu, dan Hokkaido. Namun, secara keseluruhan, daerah di selatan Jepang lebih rentan terkena taifun dibanding daerah lainnya.

–  Saat taifun melanda, disarankan untuk tidak berada di luar ruangan. Seandainya kebetulan kalian tengah berada di ruang outdoor, sebaiknya segera mencari tempat yang aman untuk berlindung. Dan, menjauhlah dari sumber air (seperti sungai) karena terkadang taifun dapat menyebabkan banjir.

–  Biasanya, saat taifun melanda, transportasi publik akan berhenti beroperasi. Jika kalian terpaksa harus bepergian saat taifun, gunakanlah moda transportasi bawah tanah seperti subway. Hanya saja, jika taifun ini disertai banjir, sangat tidak disarankan untuk menggunakan subway.

+             +             +

Bencana Lainnya

Orang-orang mengenakan masker saat bagai pasir menyerang, via japantimes
Orang-orang mengenakan masker saat bagai pasir menyerang, via japantimes

–  Jepang tentu saja tak luput dari berbagai bencana alam lain seperti letusan gunung berapi, banjir, hingga badai pasir (kiriman dari Gurun Gobi). Namun frekuensinya relatif lebih jarang dibanding gempa bumi, sehingga kalian tak perlu terlalu takut untuk berwisata ke Jepang. Yang terpenting, selalu pantau prakiraan cuaca terkini dan peringatan dari pemerintah setempat.

*             *             *             *             *

Tips Menghadapi/Mencegah Terjadinya Kejahatan

Polisi Jepang, via javedch
Polisi Jepang, via javedch

Jepang memiliki reputasi yang sangat baik dalam masalah kejahatan, karena negara tersebut dikenal sebagai salah satu negara teraman di dunia. Kota-kota besar di Jepang pun sudah sangat dikenal akan tingkat keamanannya yang tinggi, dan cukup aman bagi wisatawan untuk berjalan kaki sendirian di malam hari.

Namun, apakah Jepang 100% aman? Tentu saja tidak. Faktanya, kejahatan itu tetap ada. Bahkan, pada tahun 2014, Asahi Shinbun mengungkap fakta jika kepolisian Osaka tidak melaporkan lebih dari 81000 kasus kejahatan (dalam kurun waktu antara tahun 2008-2012) dengan tujuan untuk melindungi reputasi kota tersebut (sumber).

Wow! Beberapa kasus penusukan random dan upaya pembunuhan massal pun pernah beberapa kali terjadi di Jepang. Jadi, sekalipun Jepang dikenal sebagai salah satu negara teraman, nggak ada salahnya jika kalian tetap bersikap waspada. Lebih baik mencegah daripada menyesal, bukan?

Dengan berbekal premis “kejahatan dapat terjadi dimana saja, kapan saja, dan menimpa siapa saja”, nggak ada salahnya calon wisatawan lebih dulu mengenali beberapa potensi tindak kriminal/tindak kejahatan yang kerap dilaporkan terjadi di Jepang, antara lain:

–  Chikan, atau pelecehan seksual yang kerap terjadi di transportasi publik seperti kereta. Percaya atau tidak, mereka yang sudah terbiasa melakukan chikan kerap beroperasi di jalur kereta tertentu, dan tak segan naik kereta tertentu (seperti kereta rapid atau limited express – jenis kereta yang tidak berhenti di setiap stasiun) agar bisa lebih lama mengerjai korbannya.
–  Stalker, atau penguntit.
–  Pencurian sepeda. Kasus pencurian sepeda termasuk salah satu tindak kriminal yang cukup sering terjadi di Jepang. Menariknya, kepolisian Jepang tercatat sukses mengembalikan lebih dari 50% sepeda yang dilaporkan hilang.
–  Scam. Kasus scam yang paling banyak dilaporkan oleh wisatawan biasanya terjadi di daerah yang memiliki banyak tempat hiburan malam (seperti Kabukicho dan Roppongi). Biasanya di daerah-daerah seperti itu banyak bertebaran orang-orang yang akan mengajak turis untuk masuk ke bar atau klab malam tertentu. Beberapa turis pernah melaporkan kalau mereka mendapat tagihan yang diluar batas kewajaran, kehilangan dompet, hingga pembobolan kartu kredit (setelah menggesek kartu di bar/klab tersebut) – sumber.
–  Rasis. Oke, ini memang bukan tindak kriminal, dan mungkin lebih cocok disebut ‘tindakan kurang menyenangkan’. Tapi Jepang memang tak luput dari isu rasial, dan wisatawan kurang paham kadang merasa tersinggung. Contoh dari isu rasis di Jepang antara lain beberapa bar dan pub melarang wisatawan asing untuk masuk (dan menempelkan tulisan “Japanese Only” di pintu masuknya) dengan berbagai alasan. Kalian dapat menemukan bar seperti itu di beberapa kawasan seperti Golden Gai (Tokyo).

Polisi Jepang di depan koban, via vlasenko
Polisi Jepang di depan koban, via vlasenko

Beberapa tips untuk mencegah/menghadapi terjadinya tindak kriminal selama berada di Jepang:

–  Saat mengalami tindak kejahatan, kalian dapat langsung melapor dengan menekan nomor 110 (bisa dilakukan dari berbagai telepon).

–  Jika mengalami kejahatan di wilayah Tokyo dan kalian ingin melapor melalui telepon, hubungi nomor 03-3501-0110. Layanan berbahasa Inggris tersedia setiap hari Senin-Jumat mulai pukul 08.30-17.15 waktu setempat.

–  Kalian juga dapat membuat laporan dengan mendatangi berbagai kobanKoban adalah pos polisi (versi mini dari kantor polisi) yang ada di setiap distrik, sehingga membentuk jaringan informasi yang unik antara polisi dan masyarakat.

–  Tak dapat menemukan petugas saat ingin melapor ke koban? Jangan dulu cemas. Mungkin petugas polisi sedang melakukan tugas luar, patroli, atau karena jam tugas telah selesai (koban memang tidak aktif 24 jam). Jika kepentingan kalian betul-betul mendesak, kalian dapat menggunakan telepon yang ada di dalam koban, yang akan langsung tersambung dengan kantor polisi di daerah tersebut.

–  Untuk menghindari kemungkinan dijadikan target chikan (khususnya perempuan), hindari menunjukkan kesan lemah. Para pelaku chikan biasanya lebih suka mengincar korban yang terlihat lemah karena (kemungkinan) tak berani melawan, dibanding mengincar korban yang terlihat berpenampilan tegas (sekalipun mengenakan baju yang lebih terbuka).

–  Kalian (khususnya perempuan) juga dapat naik kereta khusus wanita (jika ada) untuk menghindari chikan. Atau, hindari naik kereta di jam sibuk, karena chikanbiasanya suka beroperasi saat kereta tengah padat.

–  Namun jika kalian tetap menjadi korban chikan, jangan langsung panik. Tetaplah tenang, dan tatap mata si pelaku dan minta dengan baik-baik untuk menghentikan kegiatannya. Atau, saat ada kesempatan, segera tangkap tangan pelaku dan teriakkan ‘chikan’ untuk memancing perhatian pengguna kereta lainnya. Biasanya, pelaku chikan yang tertangkap basah akan memilih menghindari konflik dan turun di stasiun terdekat (karena jika tertangkap, mereka bisa dikenai denda antara JPY500000-1000000 atau hukuman kurungan antara 6 bulan-10 tahun).

–  Sedangkan untuk traveller pria, agar terhindar dari tuduhan sebagai chikan (karena selalu ada kemungkinan korban akan salah mengenali pelaku), sebaiknya hindari berdiri di belakang wanita (apalagi jika wanita itu cantik). Kalian bisa juga memegang sesuatu (seperti membaca buku dengan kedua tangan atau memegang pegangan kereta) untuk menghindari kemungkinan dituduh sebagai chikan.

–  Untuk meminimalkan potensi terkena scam, sebaiknya hindari mengunjungi daerah-daerah kerap identik dengan aktifitas scam seperti Kabukicho dan Roppongi. Kalian juga bisa mempertimbangkan untuk menghindari daerah-daerah berbahaya di Jepang (baca: Inilah Daerah-daerah Berbahaya di Jepang: Area Tokyo (part 1) dan Inilah Daerah-daerah Berbahaya di Jepang: Kota Lainnya, Plus Tips Menghadapi Chikan (Part 2 End))

Semoga informasinya bermanfaat.

*             *             *             *             *

Note:
Foto diambil dari berbagai sumber (cek caption). Tidak ada editan tambahan lain selain proses resize.

Comments

comments