Sudah ada banyak tips dan trik tentang caranya melakukan perjalanan bersama keluarga. Namun biasanya, fokus kata ‘keluarga’ disini lebih kepada ‘bagaimana caranya melakukan perjalanan bersama anak-anak’, mulai dari tips agar liburan keluarga berjalan seru (baca: Tips Agar Liburan Keluarga Berjalan Seru), tips packing untuk family trip (baca: Packing Tips for Family Trip (1) dan Packing Tips for Family Trip (2)).

Tapi, keluarga kan nggak melulu berisi anak-anak saja. Lantas, ada nggak tips untuk melakukan trip bersama orang tua – terutama yang sudah berusia lanjut?

Bagi sebagian traveller – khususnya traveller muda – orang tua (dalam artian ‘orang lanjut usia’, atau untuk mudahnya disebut sebagai ‘lansia’ saja) mungkin ada dalam daftar terakhir tipe partner yang akan dipilih untuk menemani acara traveling.

Lansia biasanya identik dengan aktifitas rumahan, dan jarang bepergian ke tempat jauh. Apalagi jika lansia tersebut memiliki keterbatasan fisik maupun masalah kesehatan. Wah, terdengar sebuah hambatan untuk melakukan aktifitas traveling yang seru, kan?

Tapi hey, nggak semua lansia itu suka diam di rumah, lho. Sekalipun mungkin kondisi fisik dan kesehatan nggak se-prima traveller muda, bukan berarti semua lansia hanya suka bepergian di dalam kota saja. Sebagian lansia masih memiliki semangat ala Indiana Jones dan Lara Croft untuk menaklukkan duniamengunjungi berbagai tempat di dunia.

Jadi, kenapa traveller muda harus memaksa meninggalkan lansia di rumah? Kenapa kalian nggak sesekali mencoba mengajak mereka bertualang dan bersenang-senang?

Ilustrasi, via praktijkbuonappetito

Namun tentu saja ada beberapa hal yang perlu kalian perhatikan sebelum mengajak lansia melakukan traveling bersama. Ada juga beberapa hal yang perlu kalian siapkan sejak dini untuk membantu melancarkan aktifitas bersama lansia.

Singkat kata, langsung simak saja aneka tips untuk melakukan traveling bareng orang tua, kakek nenek, atau siapapun yang jauh lebih tua dari kalian. Sebelum itu, simak dulu sisi positif dan konsekuensinya bepergian bareng lansia.

*             *             *             *             *

Sisi Positif Bepergian Bersama Lansia

– Pernah mendengar istilah ‘kenyang makan asam garam kehidupan’? Begitu juga yang terjadi jika bepergian bersama lansia. Sekalipun mungkin kondisi fisik mereka tidak seprima traveller muda, namun orang yang lebih tua bisa jadi mengetahui berbagai tips dan tips traveling yang belum diketahui oleh traveller muda. Dengan melakukan traveling bersama, kalian bisa belajar banyak dari orang tua tentang hal-hal diluar keseharian kalian.

– Jika kalian mengunjungi destinasi yang pernah dikunjungi oleh lansia bertahun silam, bisa jadi kalian akan mendengarkan kisah-kisah yang belum tentu akan kalian temukan dalam leaflet wisata. Seru kan?

– Traveling bersama bisa menambah momen kebersamaan antara kalian dengan orang tua, apalagi kalau selama ini kalian punya banyak kesibukan sendiri dan jarang meluangkan waktu untuk kumpul-kumpul.

Konsekuensinya:

– Konsekuensi yang paling utama tentu saja masalah daya tahan fisik dan juga kesehatan yang berbeda dengan traveller muda (walau nggak semua orang muda punya daya tahan tubuh yang prima). Kalian harus bisa meredam egoisme untuk membuat itinerary sesuka hati.
– Bepergian dengan lansia pun bisa berpotensi meningkatkan gesekan di antara kalian, apalagi jika selama ini kalian punya banyak cara pandang yang berbeda tentang beberapa hal. Misalnya saja, orang tua mungkin akan melotot saat melihat kalian mengenakan bikini di pantai. Atau mungkin marah-marah melihat kalian nggak tega menawar barang saat akan membeli oleh-oleh di pasar tradisional. Tapi hey, semua hal bisa dinegosiasikan kan? Jadi jangan dulu takut untuk bepergian bersama lansia ya!

*             *             *             *             *

Tips dan Trik Traveling Bareng Lansia

Mari Mulai dari Itinerary, Karena Itinerary Adalah Segalanya

Ilustrasi, via bordeauxclassictour

– Umumnya lansia memiliki daya tahan fisik yang berbeda dengan anak muda. Karenanya, realistislah dalam menyusun itinerary. Daripada memaksakan diri mengunjungi 10 tempat dalam sehari, lebih baik kalian fokus memilih 1-2 tempat saja yang mungkin dapat meninggalkan kesan lebih dibanding tempat lainnya.

– Kondisi setiap lansia memang bisa berbeda satu dengan lainnya. Namun, untuk menghindari lansia jadi terlalu lelah dan berpotensi menyebabkan penurunan kondisi fisik, bijaklah dalam menyusun waktu wisata. Apalagi lansia biasanya bergerak lebih lambat dari anak muda, jadi kalian betul-betul harus mempertimbangkan tempo wisata. Idealnya, kalian bisa mulai jalan-jalan beberapa saat sebelum makan siang, dan di antara makan siang hingga makan malam.

– Kenali dengan baik obyek wisata yang kalian pilih, apalagi jika kalian bepergian dengan lansia yang memiliki daya tahan fisik yang kurang baik. Pilihlah obyek wisata yang mudah dijangkau dengan kendaraan, atau mudah di akses dengan berjalan kaki, dan memiliki akses yang baik (jalannya tidak licin, curam, dll dsb).

– Sedangkan jika bepergian dengan lansia yang mengalami kesulitan bergerak, nggak ada salahnya memastikan apakah kalian bisa meminjam kursi roda di obyek wisata tersebut atau tidak – kecuali jika kalian membawa kursi roda sendiri dari rumah. Begitu juga saat berada di bandara, cari tahu dimana kalian dapat meminjam kursi roda (dan bagaimana cara pengembaliannya).

– Jangan egois! Kalian mungkin senang melakukan petualangan di alam bebas dan menantang adrenalin, seperti rafting dan bungee jumping. Tapi jika bepergian bersama lansia, pastikan kalian memilih obyek wisata yang dapat kalian nikmati bersama. Caranya, diskusikan setiap usulan itinerary yang kalian ajukan, dan jangan ragu untuk mendengarkan feedback dari mereka ya!

– Ada baiknya pilih destinasi wisata yang nggak terlalu ramai. Lansia biasanya kurang menyukai keramaian, apalagi jika mereka memiliki kondisi fisik yang kurang baik. Selain itu, tempat ramai juga biasanya kurang nyaman karena harus berdesakan dengan banyak orang, dan lebih rentan akan pencopetan. Namun sekali lagi, konsultasikan setiap itinerary yang kalian usulkan untuk dirundingkan bersama-sama. Siapa tahu lansia yang akan kalian ajak traveling bersama malah menyukai suasana ramai seperti kota, dibanding menyepi di keheningan pegunungan.

– Jelilah dalam menentukan waktu wisata. Pertimbangkan masalah cuaca di destinasi tujuan wisata kalian, dan hindari bepergian pada periode liburan (di daerah tersebut) untuk menghindari suasana liburan yang terlalu ramai dan malah membuat nggak nyaman. Secara umum, hindari bepergian di tengah kondisi cuaca ekstrem dan tidak menentu, serta hindari bepergian saat high season dan peak season.

– Bingung menentukan destinasi yang mungkin akan disukai oleh lansia? Kalian bisa mempertimbangkan untuk memasukkan museum dan kuil-kuil dalam itinerary wisata. Tentunya, pilihlah tempat yang mudah di akses oleh lansia ya!

– Alternatif lainnya, kalian bisa mempertimbangkan untuk mengikuti cruise singkat, asalkan lansia tidak punya mabuk laut ya.

– Tips lainnya, kalian bisa menanyakan pada lansia, apakah ada tempat kenangan yang ingin dikunjungi di destinasi wisata atau tidak (khususnya jika mereka pernah ke tempat itu sebelumnya). Sesekali menyenangkan orang tua itu bagus lho!

*             *             *             *             *

Sebelum Bepergian

Ilustrasi, via weibo

– Jika lansia yang akan kalian ajak bepergian memiliki kondisi kesehatan tertentu, konsultasikan lebih dulu pada dokter apakah yang bersangkutan dapat diajak untuk bepergian selama beberapa hari (sebutkan dengan detail durasi wisata, kalau perlu jelaskan tentang destinasi yang akan dikunjungi). Jangan lupa tanyakan apa saja ‘do’s’ dan ‘don’t’ yang harus diperhatikan selama masa traveling.

– Sedangkan jika lansia tersebut diwajibkan mengatur pola makan karena satu dan lain hal (misalnya: terkena penyakit diabetes atau darah tinggi), ada baiknya kalian berkonsultasi pada dietisian mengenai menu yang aman disantap saat traveling. Mintalah daftar pantangan makanan yang harus dihindari selama wisata.

– Oh ya, kalian juga bisa langsung membuat janji konsultasi dengan dokter sekembalinya dari aktifitas traveling.

– Bekali diri dengan obat-obatan, terutama obat-obatan yang dibutuhkan oleh lansia (yang memiliki kondisi kesehatan tertentu). Bawalah obat-obatan itu dalam tas yang dapat masuk kabin, supaya mudah diambil sekiranya kalian tiba-tiba memerlukannya.

– Nggak ada salahnya juga berbekal snack, khususnya yang disukai oleh lansia.

– Jika perlu, survey lah lebih dulu berbagai fasilitas kesehatan di sekitar lokasi wisata yang akan kalian kunjungi.

– Untuk menghindari kondisi salah jalan yang akan membuat kalian tersesat, nggak ada salahnya membekali diri dengan peta (online maupun offline). Nggak ada salahnya juga men-download beberapa aplikasi yang mungkin akan kalian butuhkan untuk melancarkan aktifitas traveling, seperti Waze, Google Maps, dan lain-lain.

– Jangan lupa mengurus asuransi perjalanan sebelum kalian berwisata ya!

– Dan, pastikan kartu kredit kalian bisa digunakan selama berwisata. Sekalipun nggak semua tempat menerima kartu kredit, namun setidaknya kalian dapat merasa lebih tenang jika terjadi kondisi darurat yang membutuhkan biaya secepatnya.

*             *             *             *             *

Masalah Packing

Ilustrasi, via tuliptel

– Biasanya lansia lebih mudah cemas mengenai banyak hal, dan akhirnya packing lebih banyak dari seharusnya. Apalagi jika mereka termasuk jarang bepergian. Untuk menghindari hal tersebut, nggak ada salahnya kalian membantu saat packing, sehingga kalian bisa memberikan saran barang apa saja yang perlu dibawa dan apa saja yang harus ditinggal.

– Nggak ada salahnya membawa sebuah selimut tipis, apalagi jika kalian bepergian saat cuaca kurang bersahabat.

– Bawalah perlengkapan yang dapat membantu meningkatkan kenyamanan selama di perjalanan. Misalnya saja, bantal leher yang dapat dipompa, penutup mata, dan penutup telinga.

*             *             *             *             *

Random Tips Seputar Transportasi

Ilustrasi, via eluniversal

– Beberapa moda transportasi biasanya menawarkan diskon khusus untuk lansia yang telah melampaui usia minimal tertentu. Nggak ada salahnya kalian mencari tahu tentang diskon khusus tersebut, namun jangan bete kalau ternyata nggak menemukan yang kalian cari ya!

– Jika memungkinkan, pilih penerbangan non-stop (direct flight). Kalian mungkin memang akan duduk lebih lama di pesawat. Tapi jika bepergian bersama lansia, akan lebih melelahkan jika kalian harus transit beberapa kali untuk pindah penerbangan.

– Beberapa penerbangan memberikan opsi khusus bagi lansia maupun penyandang disabilitas (biasanya saat melakukan pemesanan tiket), sehingga pihak maskapai dapat langsung membantu saat kalian boarding atau setelah di dalam pesawat. Nggak ada salahnya kalian memastikan ketersediaan opsi tersebut saat melakukan pembelian tiket pesawat.

– Bijaklah dalam memilih jam penerbangan. Saat masih muda, kalian mungkin nggak masalah pergi menggunakan penerbangan termalam yang (biasanya) menawarkan harga tiket lebih murah. Namun penerbangan malam mungkin saja akan mengurangi kenyamanan lansia yang (mungkin saja) telah memiliki pola istirahat yang teratur.

*             *             *             *             *

Seputar Akomodasi

Ilustrasi, via euroweeklynews

– Biasanya, traveller muda (khususnya budget traveller) suka memilih penginapan yang agak jauh dari pusat keramaian karena harganya yang relatif lebih murah dibanding penginapan sejenis lainnya. Hanya saja, jika kalian berwisata bersama lansia, sebaiknya pertimbangkan memilih akomodasi yang mudah dijangkau oleh transportasi. Tujuannya agar sewaktu-waktu kalian bisa dengan mudah kembali ke penginapan.

– Pilih akomodasi yang ramah untuk lansia. Definisi ramah disini terutama dari segi fasilitas. Misalnya saja, pilih penginapan/hotel yang memiliki lift (jika akomodasi itu lebih dari satu lantai). Lebih baik lagi jika kalian bisa memilih kamar yang dilengkapi dengan kamar mandi dalam kamar, sekalipun harganya mungkin lebih mahal dibanding kamar tanpa kamar mandi. Tips ini terutama berlaku jika kalian menginap bukan di hotel besar, atau mungkin menginap di hotel-hotel tradisional seperti ryokan (hotel tradisional Jepang).

– Oya, pilih juga kamar yang dilengkapi dengan penyejuk udara, untuk menjamin agar lansia dapat beristirahat dengan nyaman.

*             *             *             *             *

Tips Random Lainnya

Ilustrasi, via amac

– Bepergian bersama lansia bukan berarti kalian harus bersama mereka 24/7. Agar kalian tetap bisa menikmati liburan yang kalian inginkan, nggak ada salahnya merencanakan aktifitas kecil untuk kalian nikmati sendiri. Misalnya saja, lanjut kongkow di club malam setelah selesai aktifitas wisata bersama orang tua. Atau, bisa juga kalian memiliki plan B aktifitas sendiri untuk berjaga-jaga seandainya sewaktu-waktu orang tua memutuskan untuk beristirahat di hotel saja dibanding pergi jalan-jalan.

– Jika memungkinkan, ajak juga anggota keluarga lainnya untuk berwisata bersama. Umumnya lansia akan jauh lebih senang dan merasa lebih aman jika melakukan wisata bersama anggota keluarga lainnya.

– Jika bepergian bersama keluarga besar, kalian nggak harus selalu pergi bersama-sama sebagai rombongan setiap saat. Seandainya di antara anggota keluarga besar memiliki beberapa ide wisata yang sulit dikompromikan (misalnya karena perbedaan selera), nggak ada salahnya sesekali membagi group menjadi beberapa kelompok. Masing-masing kelompok bisa bergantian untuk menyesuaikan diri dengan itinerary yang nyaman bagi orang tua.

– Akui saja, jika orang tua kebanyakan sensitif dengan hal-hal tertentu. Misalnya saja, dengan cara kalian berpakaian (terutama jika kalian masih sangat muda). Untuk menjaga suasana traveling tetap terasa menyenangkan, sebaiknya hindari melakukan hal-hal yang mungkin akan menjadi bahan perselisihan. Sebagai contoh, alih-alih memaksakan diri mengenakan bikini lucu yang sebetulnya sudah kalian siapkan untuk liburan, kalian bisa mengenakan one piece yang relatif lebih sopan. Kalian tetap bisa berenang, namun nggak bikin orang tua deg-degan.

*             *             *             *             *

Dan, Mungkin Inilah Tips Paling Ultimate yang Perlu Kalian Ketahui

Ilustrasi, via myageingparent

Setelah membaca uraian di atas, bisa jadi kalian mungkin malah akan berpikir kalau bepergian bareng lansia itu merepotkan. Tapi, hey, ingatlah satu hal ini.

Lansia pun dulunya pernah muda. Begitu juga kalian, suatu saat nanti akan menjadi lansia juga (jika umur memungkinan). Jadi, jangan pernah menganggap lansia itu merepotkan, karena kelak akan tiba giliran kalian untuk merepotkan orang lain. Anggap saja traveling bersama lansia (entah itu orang tua maupun kakek-nenek) sebagai bentuk latihan kalian jika kelak diajak traveling oleh anak cucu saat usia tak lagi muda. Lagipula, traveling bareng lansia bisa menjadi kenangan indah, yang akan menjadi harta karun sampai kapanpun juga.

Jadi, kapan kalian akan mulai mengajak orang tua atau kakek-nenek traveling bareng?

*             *             *             *             *

Note:
Foto diambil dari berbagai sumber (lihat caption) tanpa adanya editan selain proses resizing.

 

baca juga :

Ups! Ini Dia Aneka Kesalahan Yang Biasa Dilakukan Traveller Pemula

Percaya atau Nggak, 18 Mitos Traveling Ini Sering Banget Menyesatkan (Calon) Wisatawan Lho! Gimana dengan Kamu?

Comments

comments